Napian Beas; Ngajaga nu Kudu Diriksa

napian beas_jagaraksaNapian Beas” adalah istilah bahasa Sunda yakni membersihkan padi yang sudah digiling atau ditumbuk terlebih dahulu dengan menggunakan alat yang bernama nyiru atau tampah/tatampah yang terbuat dari bambu. Fungsinya untuk memilih dan memisahkan sisa kulit padi yang masih menempel sehingga beras menjadi lebih bersih. Hal tersebut dilakukan karena hasil gilingan/tumbukan padi kadang menyisakan kulit padi (hu’ut), masih ada gabah yang tidak terkupas, atau beras yang terlalu kecil (beunyeur) kemudian dipilih dan dipilah.

Napian beas sangat gampang dan sederhana. Pertama, beras yang sudah ditakar itu ditumpahkan ke atas nyiru/tampah, lalu digoyang-goyang, diputar-putar, atau digerakkan naik turun sampai kotoran seperti hu’ut, kulit gabah, dan beunyeur itu terpisah dari beras hingga tersisih dipinggir nyiru/tampah.

Napian beas merupakan budaya turun temurun di komunitas masyarakat adat Kasepuhan Karang di Desa Jagaraksa, Kecamatan Muncang, Lebak Banten.  Kegiatan tersebut dilakukan oleh kebanyakan kaum perempuan baik secara sendiri-sendiri untuk keperluan keluarga atau secara bersama-sama untuk membantu saudara atau tetangga mereka terutama jika ada hajatan seperti pernikahan, upacara adat, atau kapapatenan (acara duka/meninggal dunia).

lantayan pareMenurut Jaro Wahid, Kepala Desa Jagaraksa, terdapat beberapa istilah paska panen padi di Kasepuhan Karang, antara lain, dibuat (Panen), ngalantay (proses penjemuran), ngunjal yaitu memindahkan padi dari lantayan ke dalam leuit atau lumbung padi, nutu (menumbuk padi) hingga napian beas.

Napian beas merupakan budaya turun temurun yang dilakukan oleh perempuan adat di Kasepuhan karang yang dulunya dilakukan di saung lisung, namun saat ini mereka menggunakan mesin heuler (tempat penggilingan padi), sehingga prosenya lebih cepat dan mudah” ujarnya.

Saling bantu ngaranna!” ujar Ma Arikah, warga Kampung Karang Desa Jagaraksa.

“Saha bae nu hajat, dibantu, mun aya nu hajat deui, dibantu deui”

Mun napian, ngisikan, nyangu jeung nyieun papais pasung eta bagian awewe., sedengkeun ngunjal, ngala suluh, ngala kalapa, ngala cau eta bagean lalaki” tambahnya.

Salain ngabantuan, kami oge sok meunang huut alakadarnya, lumayan gratis”

rengkongKegiatan ini sangat erat kaitannya dengan pembagian peran antara laik-laki dan perempuan adat dalam mengelola hasil panen. Mereka mempunyai pola dan aturan yang diyakini sebagai kebiasaan dalam bermasyarakat sehari-hari.

“Budaya gotong royong ini harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai modal besar membangun masyarakat madani” ujar Jaro Wahid.

“Seperti halnya kehidupan, napian beas merupakan siloka (perumpamaan) bahwa kita harus bersih diri dan suci hati dari berbagai sifat iri, dengki, sombong dan aniaya. Terus menjaga lingkungan dari kerusakan, menanam untuk menyelamatkan kehidupan hingga makan dari hasil kerja keras dan halal” tambahnya.

Sebagaimana wasiat Syang Hyang Prabu Borosngora, Raja dan penyebar Islam di wilayah Panjalu, Ciamis, Jawa Barat.

Mangan karana halal, make karana suci, ucap lampah sabenere ( makan yang halal, berpakaian yang suci, dan berprilaku yang benar).

Suasana pedesaan yang khas di komunitas masyarakat Kasepuhan Karang jauh dari hiruk pikuk kegaduhan politik dan polusi kota.

Disini sangat damai dan menyejukkan. #IDInklusif

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *