Andi dan Mimpi Anak-Anak Baduy

“Andi mau jadi orang kaya
Bapak Andi, Arpin
Ambu/Ibu, Sani
Kakak Andi, Anda
Andi mau beli mobil untuk dipake usaha dagang.
Andi asal Kampung Balimbing Baduy”

Andi (8) warga Baduy luar,  menuliskan mimpinya dalam sebuah buku pada Selasa (10/5/2016) di rumahnya, di Kampung Balimbing, Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kab. Lebak Banten

andi, anak baduyAndi, termasuk anak yang beruntung dibanding anak-anak lain seusianya. Saat ini, ia telah bisa menulis dan membaca dengan baik sehingga ia mampu mengungkapkan harapannya dalam sebuah tulisan. Sedangkan kebanyakan anak-anak seusianya tidak bisa menulis dan membaca, mereka sangat mematuhi ketentuan adat yang melarang bersekolah.

“Saya dan anak-anak disini belajar menulis dan membaca di rumah Pak Sarpin” ujar Andi.

“Senang bisa belajar disini”

Sarpin adalah tokoh adat yang juga Kaur Pemerintahan Desa Kanekes. Ia dan keluarganya yang memulai mengajarkan menulis dan membaca kepada anak-anak Baduy di kampungnya.

“Perubahan itu pasti, jika tidak diimbangi dengan pendidikan maka akan tergilas oleh zaman” tutur Sarpin.

Aturan adat Baduy, melarang warganya untuk sekolah, terutama sekolah formal. Saya belum menemukan alasan pasti mengenai diberlakukannya aturan ini. Namun jika merujuk tulisan, literatur atau hasil penelitian yang telah dilakukan banyak pihak, ada beberapa hal yang melatarbelakangi diberlakukannya ketentuan larangan sekolah ini.

Mengutip tulisan dari Uday Suhada dalam blognya  menyatakan, ia memperoleh jawaban sederhana dari salah seorang warga Baduy, diantaranya adalah kutipan berikut ini :

“Kusabab dilarang sakola, lamun sakola bisa jadi pinter, lamun pinter bisa minteran batur. Contona kiwari nagara urang keur acak, eta anu nyieun acak, jalma anu palalinter.”

Artinya “yang menyebabkan adat melarang warganya bersekolah, jika sekolah maka ia bisa pintar, jika pintar, ia dapat membodohi/menipu orang lain. Contohnya saat ini negara kita sedang kacau, hal ini disebabkan oleh mereka yang pintar.” Mereka memilih bodoh, jika harus dihadapkan pada adanya kemungkinan untuk menipu orang lain. Sumber : http://udaysuhada.blogspot.co.id/2008/11/mengapa-dilarang-sekolah-di-baduy_25.html

Penjelasan lain merujuk dari http://skp.unair.ac.id/repository/Guru-Indonesia/SEKOLAHALTERNATIFA_baduy_8782.pdf, dalam tulisannya men-sarikan dari cuplikan dan penjelasan dari tokoh adat Baduy, Ayah Mursyid (Wakil Jaro Tangtu Cibeo Baduy Dalam), antara lain:

Masyarakat Baduy mendapat amanat harus hidup sederhana, supaya tetap sekeyakinan dan kebersamaan, jika di Baduy diberi kebebasan untuk mencari ilmu pengetahuan dan kemajuan pasti akan terjadi persaingan hidup sedangkan pengetahuan dan kemajuan tidak ada batasnya, akhirnya manusia terus berlomba-berlomba dan lupa Wiwitan serta tujuan hidup yang sebenarnya.

andi anak baduy Keberadaan sekolah formal, akan menyita waktu bagi siswa didiknya karena jadwal yang tetap yang sudah ditentukan. Sedangkan di masyarakat Baduy kesehariannnya penuh dengan kegiatan adat yang wajib dilaksanakan oleh setiap warga tanpa kecuali, yaitu berladang serta kegiatan lainnya. Jadi kalo masyarakat adat ikut sekolah formal, dipastikan kegiatan adat banyak yang terganggu.

Tanah adat tidak boleh diubah termasuk bentuk rumah atau bangunan, jadi kalau dibangun sekolah yang permanen di tanah ulayat dipastikan bertentangan dengan hukum adat yang pokok.

Menurut mereka belajar membaca, menulis dan berhitung bukan tidak butuh dan tidak penting. Calistung atau ilmu pengetahuan lainnya mereka anggap sebagai pelengkap dan penyeimbang untuk hidup, dan bergaul dengan masyarakat luar.

Sarpin, Perintis Sekolah Alternatif Ala Baduy

Sarpin beserta istri dan kedua anaknya
Sarpin beserta istri dan kedua anaknya. photo: nury sibly

Sarpin (39 tahun), tinggal di Kampung Balimbing atau Cibalimbing. Sarpin adalah orang asli Baduy yang telah menerima dan mengikuti perubahan zaman. Interaksi Sarpin dengan Asep Kurnia dan Bidan Eros Rosita sebagai kader posyandulah yang telah membuka paradigma Sarpin tentang arti pentingnya pendidikan.

Eksitensi Sarpin tidak akan masif dalam melakukan perubahan di kesukuaannya tanpa dukungan dari orang seperti Asep Kurnia dan Bidan Eros Rosita yang memiliki peranan dalam memberikan insfirasi kepada Sarpin dan warga Baduy lainnya. Asep Kurnia dan Bidan Eros Rosita telah melakukan penelitian selama lebih dari 13

tahun. Selama –dan hingga kini, bahkan selamanya- ia akan tetap hidup berdampingan dengan suku Baduy. Asep Kurnia dan Bidan Eros Rosita melakukan penyuluhan di bidang pendidikan dasar dan kesehatan ibu dan anak.

andi anak baduy menuliskan harapannyaSebagai warga Kampung Balimbing yang secara geografis berada diwilayah Baduy Luar, Sarpin yang sudah bisa menerima kehadiran orang luar dengan tangan terbuka. Sarpin belajar membaca, menulis, dan berhitung secara otodidak dari tamu-tamu yang datang, yang kemudian mengajarkanya kembali kepada anak-anak

Baduy, khususnya kepada dua anaknya, yakni Mulyono (16 tahun) dan adiknya Marno (6 tahun).

Di tengah ketatnya adat yang melarang masyarakat Baduy bersekolah, Sarpin justru gencar mengajari kedua anaknya membaca dan menulis. Dua bentuk kegiatan dasar yang sering dijadikan patokan tingkat intelejensi seseorang. Bukan hanya Mulyono dan Marno. Sarpin juga mengajari anak-anak di kampungnya baca dan tulis.

Kegiatan itu, awalnya dilakukannya secara diam-diam. Warga sekampung mungkin tahu, tapi tentunya tidak sampai ketahuan adat. Hal ini kemudian menjadi perdebatan yang cukup sengit diantara para petinggi adat yang tidak setuju dengan kegiatan ini. Menurut Sarpin, itu adalah masa yang paling sulit.

andi dan ajiDari segi Adat, walau sempat dicap sebagai warga yang berani menentang aturan adat, tapi berkat komunikasi yang baik dengan para tetua adat Suku Baduy. Akhirnya, Sarpin mendapatkan restu terhadap upayanya untuk memberikan pendidikan, dengan catatan tidak melakukan pelanggaran terhadap aturan adat. Dukungan penuh didapatnya dari seorang tokoh masyarakat Baduy, Wakil Jaro Tangtu, yang bernama Ayah Muryid. termasuk tokoh adat muda Baduy Dalam yang disegani oleh berbagai kalangan.

andi, mimpi anak baduySarpin dengan dibantu oleh Asep Kurnia dan Ayah Mursyid, berusaha menjelaskan kepada adat bahwa ini bukan seperti sekolah formal melainkan dapat dilakukan dimana saja, bisa dilakukan di rumah maupun di ladang. Lagi pula syaratnya dari adat pengajar-pengajarnya harus orang Baduy asli dan itu bisa terpenuhi.

Lambat laun, adat mulai melunak dan akhirnya memperbolehkan kegiatan Sarpin. Tahun 2007, atas semua yang telah Sarpin lakukan, Menteri Pendidikan Nasional memberinya penghargaan atas usahanya yang mengenalkan pendidikan kepada masyarakat Baduy. Sebagai pelopor sekolah alternative ala Baduy.

Dengan tulisan, semoga semakin memunculkan semangat baru untuk menyuarakan mimpi-mimpi, do’a-do’a, dan harapannya agar dunia tahu bahwa mereka adalah penjaga keutuhan sumberdaya alam di Negeri ini.

Semua orang adalah guru, alam raya sekolahnya. #IDInklusif

4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *