Kalangsari, Ich liebe dich für immer

Judulnya agak lebay sih, tapi gapapa biar tidak banyak yang ngerti, kan kalau bisa bikin bingung orang, itu ciri-ciri orang pinter wkwkwk… karena cuma Mantan Presiden Habibie yang fasih soal ini, sedangkan Mantan Presiden yang lain? Sie wissen nichtsehr besorgt!

25 Tahun yang lalu, saya pertama kalinya belajar bahasa asing diantaranya bahasa Jerman, Inggris dan bahasa arab, cie.. keren kan?  

Mengapa demikian? karena waktu itu, kurikulum sekolah di Madrasah Aliyah Yayasan Pendidikan Kalangsari (YPK) Cijulang mewajibkan siswanya belajar tiga bahasa asing tersebut, jadi intinya itu pelajaran wajib bro

Sampai saat ini saya masih mengingat guru-guru saya, Pak Edi, guru Bahasa Jerman yang sabar dan selalu tidak lepas dari tembakau lintingan sendiri, mirip rokok Gudang Garam Merah itu lho.

Bu Euis yang selalu setia menjadi wali kelasku dari kelas 1 sampai kelas 3. Pak Empud (alm), Pak Mulyana, Pak Toyib, Pak Manaf, Pak Sodikin, Pak Ilyas, Pak Ading yang selalu membaca novel salah asuhan sebelum belajar, Pak Aceng yang mengajari saya pidato hingga pernah jadi juara. Pak Yaya yang agak galak dan semuanya deh… semoga selalu diberikan keberkahan dan ampunanNYa. amin

Juga teman-teman terbaikku yang tidak pernah lelah menemani saat bercanda, berantem, diskusi, dipinjemin duit, juga sabar ketika diisengin terutama temen cewek yang hanya empat orang sekelas (Aan, Nunuh, Resna dan Jenab)

Ahh..makin kangen nih..

Sambil sekolah saya juga ikut mondok di Pesantren Kalangsari, lumayan juga lah sampai bisa bikin nasi liwet dan sambel samara dua belas. Karena mondok pada saat itu, setiap santri harus masak sendiri dengan cara ngaliwet bersama teman-teman sekamar.

Jika tidak sempat masak, santri bisa menukarkan beras sebanyak “saentik” atau (satu gelas) yang diberikan kepada Ceu Muroh, istrinya Mama Udin (Alm-) untuk ditukarkan dengan sepiring nasi beserta lauk pauknya.

Ponpes yang Melegenda

Ponpes Kalangsari  telah berdiri cukup lama dan merupakan salah satu Pondok Pesantren tertua di  Kabupaten Pangandaran yang masih eksis hingga saat ini. Tidak sedikit Ulama-ulama dan Kyai-kyai yang memiliki pengaruh besar di Kabupaten Pangandaran khususnya  dulunya adalah santri dan belajar ilmu agama di Pesantren ini yang terletak di Dusun Kalensari Desa Kondangjajar Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran.

Pondok Pesantren Kalangsari didirikan oleh KH. Abdul Madjid atau lebih dikenal dengan sebutan Agan Didi pada tahun 1928 silam.

Tahun 1970,  KH. Abdul Madjid wafat dan pimpinan Ponpes Kalangsari dilanjutkan KH. Tasdikin atau dikenal dengan sebutan Mama Haji Tasdikin sampai dengan tahun 1995.

Sepeninggalan KH. Tasdikin Ponpes Kalangsari dipimpin oleh KH. Badrudin sebagai sesepuh dan KH. Muchsin atau yang lebih dikenal sebagai Mama Udin dan Mama Ucin.

Pada tahun 2015, KH. Badrudin meninggal dunia dan pengasuh Ponpes Kalangsari dipimpin oleh KH. Muchsin.

KH. Muchsin atau Mama Ucin lahir pada tanggal 10 Mei 1940, beliau adalah salah satu Ulama tertua yang ada di Kabupaten Pangandaran dan Kecamatan Cijulang hususnya. Mama Ucin adalah sosok panutan (sesepuh) bagi para masyarakat di sekitar Kecamatan Cijulang, dan bahkan beliau ditunjuk sebagai penasehat di MUI kecamatan Cijulang karna beliau adalah satu-satunya Ulama yang paling tua dan pantas untuk dijadikan sebagai Sesepuh Cijulang.

Dengan dibantu oleh para Ustadz dan Ustadzah, Mama Ucin yang juga Ayah dari Teh Ninih Mutmainnah mantan istri KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym),  ini di usianya yang sudah cukup tua beliau masih tetap mengajar ngaji (ngawuruk) para santri dan santriwati yang tingkatnya sudah atas atau bisa disebut tingkat Madrasah Aliyah.

Karena di Ponpes Kalangsari selain tempat “mondok” terdapat santri yang belajar di sekolah formal dibawah pesantren Kalangsari yaitu tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Selain mengajar ngaji para santri dan santriwati, beliau juga sering memberikan tausyiah kepada jamaah “kemisan” atau pengajian mingguan tiap Kamis yang sudah ada sejak didirikannya Pondok Pesantren Kalangsari oleh KH. Abdul Madjid (Agan Didi).

Mama Ucin dikenal dengan sosok yang sederhana dan selalu menerapkan disiplin sehingga menjadi panutan bagi santri-santrinya.

Walaupun teknologi sudah maju dan berkembang saat ini, Mama Ucin berharap,   para santrinya agar tidak menghilangkan apa yang sudah menjadi tradisi seorang santri yakni seperti mengaji kitab kuning (ngalogat) serta mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain, walaupun satu ayat.

Disinilah sepenggal kisahku tertambat
sepanjang angan, separuh malam
menemaniku dalam khusyuk
menusuk relung gelisah
tentang kisah cintanya sang rembulan
hingga memudar ketika sayup untuk
menghilang dibalik menara mesjid itu
tapi kembali dalam bayangmu seraya berucap, I werde dich für immer in Erinnerung behalten

)*Info dan gambar diambil dari berbagai sumber,  juga google translate hehe

.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *